Setelah mengirim semua berkas secara online, maka dimulailah penantian panjang turunnya LoA untuk bisa bergabung short course di Belanda. Penantian ini panjang dan menjemukan (as always hehe...). Kadang sangat bosen, bahkan sempat jalan-jalan di sawah belakang kantor hehe.. sambil nyari inspirasi beasiswa mana lagi yang cocok dengan aku.
Karena tidak tahan dengan penantian, maka aku segera mengirim email lagi ke Mrs. Tiggeelar pada 19 September 2011. Alasannya sih, iseng-iseng nanya, apakah dokumenku sudah diterima dengan baik. Gawat kan, kalau aku sudah merasa mengirim dokumen tapi beliaunya belum menerima? Barangkali email hari itu pas trouble, kan aku tidak tahu..
Akhirnya belum ada balasan juga weleh weleh ... Benar-benar uji kesabaran!
7 November 2011
Datang surat balasan dari Mrs. Tiggelaar. Aku bersorak, Horee.. finally...
Nei, belum final. Aku diharuskan menambah nilai TOEFL ITP dari 540 menjadi 550. What!! Bukannya syarat di nesoindonesia sudah disebutkan, minimal TOEFL ITP hanya 520 untuk bisa ikut short course? Aku termenung dan berpikir :
Me : Hei, di website neso indonesia kan cuma menyaratkan 520 tahu, kenapa RUG minta 550?
RUG : Terserah aku dong, aku yang mengeluarkan LoA, kalau tidak mau, ya elu tidak dapat LoA.
Me : Oke .. I give up ...
Pada tanggal itu juga, aku memberi balasan ke Groningen bahwa dalam waktu dekat aku tidak mungkin ikut tes TOEFL ITP (sampai desember test TOEFL ITP di NESO dan AMINEF sudah full booking). Namun aku akan mengambil tes IELTS yang akan diadakan 10 Desember 2011.
Kalau lamaranku tidak bisa ditunggu sampai desember, ya izinkan aku melamar short course untuk tahun depan. Begitu emailku pada Mrs. Tiggelaar.
Seperti biasa, tidak ada reply setelah itu.
Hari-hariku setelah itu dipenuhi dengan persiapan ikut ambil tes IELTS, this is the first time dan aku harus dapat nilai minimal 5.5. Satpam di IALF Surabaya menakut-nakutiku bahwa ada candidate yang sudah tes 3 kali belum juga lulus, padahal cuma butuh 5. Jadi nyiut juga nyali waktu itu. Ah, nothing to lose, tidak dapat nilai 5.5, toh aku tidak perlu malu pada Mrs. Tiggelaar. Lha wong kita belum pernah ketemu sekalipun hihi...
Ini neh, hasil test IELTSku
25 Desember 2011
test IELTSku keluar dan... na..na.. 6.5. Oh my God, thank you. Aku sama sekali tidak menyangka nilaiku akan setinggi itu. Meski distribusinya tidak sama (reading 7.5, lainnya 5.5 kecuali listening 6.5), aku bersyukur bisa dapat overall score 6.5. Toh Groningen tidak minta skor per band. Tanggal 26 Des 2011 aku segera email nilai IELTSku. Holland lagi libur sampai 4 Januari..
Walah, ternyata orang luar negeri banyak liburnya juga...
Ah, menunggu lagi, sambil menunggu tulisanku berikutnya :)
Minggu, 03 Juni 2012
Kamis, 31 Mei 2012
Short Course di University of Groningen dengan Stuned Scholarship
Akhir-akhir ini aku merasa gelisah menanti pengumuman beasiswa VLIR
Untuk mengalihkan rasa penasaranku, baiklah aku menulis tentang perjalananku meraih beasiswa short course dari Stuned.
Sebenarnya beasiswa stuned sudah aku ketahui sejak 2010, namun pada waktu aku belum punya sertifikat TOEFL karena belum pernah ujian. Dan lagi, salah satu syarat yang diharus dipenuhi untuk mengajukan beasiswa stuned adalah sudah mendapatkan letter of admission (LoA).
Maksud LOA?
Pokoknya buta sekali pada saat itu. Ah sudahlah, daripada mikirin LoA yang belum ketahuan definisi dan maksudnya, aku mulai mempersiapkan diri dengan mengikuti tes TOEFL ITP. Syarat master stuned nilai TOEFL 550 dan syarat short course 520. Singkat kata, aku mengikuti tes TOEFL ITP sebanyak 3 kali, dua di neso dan satu di aminef (tiga-tiganya bolos kerja, tapi sudah pamitan juragan).
Akhirnya nilai yang paling baik yang pernah aku dapatkan dari test TOEFL ITP adalah 540. Karena hanya cukup untuk short course, maka aku berencana untuk daftar short course saja.
Pertama, cari daftar shortcourse yang dikeluarkan NFP. Daftar ini bisa diunduh dari website http://nuffic.nl/nfp. Karena aku bekerja di bagian sosial dan kependudukan, makanya aku cari jenis short course yang sesuai. Ah, nemu juga, Short course in Demographic Methods and Analysis di University of Groningen.
Kedua, hubungi pihak contact person dari program tersebut, jangan menghubungi pihak Universitas, jauh banget komunikasinya. Oh ya, aku catat namanya Mrs. Stiny E. Tiggelaar. Itulah email pertama yang aku kirim ke luar negeri.
Tanggal 12 Agustus 2011 aku mengirim email ke SE Tiggelaar dengan bahasa inggris yang ga sampai 550 tadi. Kalau dilihat lagi sekarang, tata bahasa lucu dan amburadul hehe... Ah gapapa, dia juga kan tidak tahu siapa aku. Sejak saat itu, aku berani mengirim email ke luar negeri dengan bahasa seadanya. Saat itu aku tanya tentang tata cara pendaftaran short course di population research program (prc) di Groningen.
Tak disangka, tanggal 12 Agustus 2011 sore ternyata SE Tiggelaar sudah membalas emailku dan aku disuruh membuka sebuah halaman website. http://www.rug.nl/frw/education/short course.
Esoknya, seharian penuh, aku mojok di komputer salah satu teman (terima kasih mbak yeni) dan aku mengisi form yang ada di site tersebut. Ah, ternyata susah juga ya mengisi form untuk short course. Apalagi yang bagian motivation letter (ini juga yang pertama nulis motivation letter). Ah, nulis apa adanya saja..
Kemudian ada bagian letter of recommendation. Gudabrak!!! Siapa yang bisa ngasih surat itu ke aku? Bapak kepala, dia kan belum bisa bahasa inggris apalagi nulis surat rekomendasi. Dosen STIS? Haha.. aku kan sudah lama lulusnya, mungkin Bapak/Ibu itu sudah lupa dengan aku. Akhirnya aku tinggal bagian ini dan tetap submit application. Tapi setelah hari itu, aku bergerilya mencari surat rekomendasi dari para dosen yang sekarang sudah menjadi orang penting BPS. Hasilnya, sudah tentu emailku tidak dijawab blas..blas..
15 Agustus aku mengirim semua dokumen lewat email alias yang sudah di scan. Jadi, teman-teman yang berburu beasiswa pasti tahu, mana2 dokumen yang perlu discan.
Langkah ketiga, kita lanjutkan kapan2 ya?
Untuk mengalihkan rasa penasaranku, baiklah aku menulis tentang perjalananku meraih beasiswa short course dari Stuned.
Sebenarnya beasiswa stuned sudah aku ketahui sejak 2010, namun pada waktu aku belum punya sertifikat TOEFL karena belum pernah ujian. Dan lagi, salah satu syarat yang diharus dipenuhi untuk mengajukan beasiswa stuned adalah sudah mendapatkan letter of admission (LoA).
Maksud LOA?
Pokoknya buta sekali pada saat itu. Ah sudahlah, daripada mikirin LoA yang belum ketahuan definisi dan maksudnya, aku mulai mempersiapkan diri dengan mengikuti tes TOEFL ITP. Syarat master stuned nilai TOEFL 550 dan syarat short course 520. Singkat kata, aku mengikuti tes TOEFL ITP sebanyak 3 kali, dua di neso dan satu di aminef (tiga-tiganya bolos kerja, tapi sudah pamitan juragan).
Akhirnya nilai yang paling baik yang pernah aku dapatkan dari test TOEFL ITP adalah 540. Karena hanya cukup untuk short course, maka aku berencana untuk daftar short course saja.
Pertama, cari daftar shortcourse yang dikeluarkan NFP. Daftar ini bisa diunduh dari website http://nuffic.nl/nfp. Karena aku bekerja di bagian sosial dan kependudukan, makanya aku cari jenis short course yang sesuai. Ah, nemu juga, Short course in Demographic Methods and Analysis di University of Groningen.
Kedua, hubungi pihak contact person dari program tersebut, jangan menghubungi pihak Universitas, jauh banget komunikasinya. Oh ya, aku catat namanya Mrs. Stiny E. Tiggelaar. Itulah email pertama yang aku kirim ke luar negeri.
Tanggal 12 Agustus 2011 aku mengirim email ke SE Tiggelaar dengan bahasa inggris yang ga sampai 550 tadi. Kalau dilihat lagi sekarang, tata bahasa lucu dan amburadul hehe... Ah gapapa, dia juga kan tidak tahu siapa aku. Sejak saat itu, aku berani mengirim email ke luar negeri dengan bahasa seadanya. Saat itu aku tanya tentang tata cara pendaftaran short course di population research program (prc) di Groningen.
Ini dia lambang prc
Tak disangka, tanggal 12 Agustus 2011 sore ternyata SE Tiggelaar sudah membalas emailku dan aku disuruh membuka sebuah halaman website. http://www.rug.nl/frw/education/short course.
Esoknya, seharian penuh, aku mojok di komputer salah satu teman (terima kasih mbak yeni) dan aku mengisi form yang ada di site tersebut. Ah, ternyata susah juga ya mengisi form untuk short course. Apalagi yang bagian motivation letter (ini juga yang pertama nulis motivation letter). Ah, nulis apa adanya saja..
Ini neh site tempat kita mengisi
application form
Kemudian ada bagian letter of recommendation. Gudabrak!!! Siapa yang bisa ngasih surat itu ke aku? Bapak kepala, dia kan belum bisa bahasa inggris apalagi nulis surat rekomendasi. Dosen STIS? Haha.. aku kan sudah lama lulusnya, mungkin Bapak/Ibu itu sudah lupa dengan aku. Akhirnya aku tinggal bagian ini dan tetap submit application. Tapi setelah hari itu, aku bergerilya mencari surat rekomendasi dari para dosen yang sekarang sudah menjadi orang penting BPS. Hasilnya, sudah tentu emailku tidak dijawab blas..blas..
15 Agustus aku mengirim semua dokumen lewat email alias yang sudah di scan. Jadi, teman-teman yang berburu beasiswa pasti tahu, mana2 dokumen yang perlu discan.
Langkah ketiga, kita lanjutkan kapan2 ya?
Kamis, 02 Februari 2012
Hikmah mengejar beasiswa..
Apakah mengejar beasiswa itu sangat berharga?
Kalau anda tanyakan itu padaku, akan aku jawab dengan anggukan semangat "Ya".
Ketika aku SD, semua orang menyebutku anak pandai karena selalu mendapat rangking di kelas. Hal ini membuatku melengggang ringan hampir tanpa rintangan masuk SMP favorit di kotaku. SMP 1? Bukan, aku hanya masuk SMP 2. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa masuk SMP 1.
Aku masuk SMP 2 karena aku melihat kakakku yang sekolah di SMP 1 terlalu sering mengeluarkan biaya. Ongkos-ongkos itu tentu saja sangat memberatkan bapakku yang hanya berjualan pentol. Dan yang lebih penting lagi, di SMP 2 tidak ada pelajaran berenang (aku tidak bisa berenang saat itu hehe...). Tapi, setelah diterima di SMP 2, ternyata ada juga pelajaran berenang. Saat ada pelajaran renang, biasanya sehabis sholat subuh kakakku sudah harus berangkat ke sekolah.
Di SMP, otakku masih encer sehingga tidak mengalami kesulitan masuk SMA 1. Baru terasa bahwa aku bukan apa-apa ketika bersaing dengan mereka yang sama-sama cerdas. Aku sempat down melihat rangkingku yang melorot tak tertahankan. Tapi ternyata ada hikmah di balik itu semua. Aku belajar berkompetisi dalam lingkungan yang fair dan membentuk kebiasaan belajar.
Setelah selesai kuliah D-IV dan bekerja sebagai PNS, aku merasa ada yang aneh dan hilang dalam hidupku. Ya, semangatku! Semangatku sudah menghilang. Itu karena aku tidak sedang berusaha mengejar sesuatu dalam hidupku, aku sudah merasa nyaman. Aku tidak sedang berkompetisi lagi dan tidak mempunyai ambisi apa-apa dalam hidup. Daari sini aku mengambil kesimpulan, ternyata cita-cita itu penting dan harus selalu ada, apapun itu. Dulu aku beranggapan bahwa aku tidak perlu mempunyai cita-cita sehingga ketika maut menjemputku, aku tidak terlalu kecewa dengan kehidupan dunia.
Namun sekarang, aku merasa perlu hadirnya ambisi dan cita-cita itu walaupun nantinya cita-cita itu tidak akan tercapai, atau kematian akan memotongnya di tengah jalan. Dan aku menjadikan mengejar beasiswa menjadi cita-cita mulia yang bisa menjadi nyala semangat dalam hidup, tercapai atau tidak, itu urusan belakang.
Sejujurnya, aku sempat stuck dengan pekerjaan di kantor. Seperti orang bilang, sebagai PNS, rajin atau tidak, pintar atau tidak, gaji akan sama dan reward juga sama. Sebenarnya, tidak masalah bagiku gaji sedikit atau banyak, namun semangat untuk berkompetisi ini ternyata penting untuk menumbuhkan semangat kerja dan juga semangat hidup. Karena aku tidak mendapat sistem kompetisi ini di tempat kerja, aku berusaha memotivasi diri sendiri dengan membuat publikasi berstandar internasional. Ya, mungkin atasan tidak akan memberi reward apa-apa, tapi at least atasan akan menjadi tahu kemampuan bawahannya. Suatu hari nanti, aku yakin semua pekerjaan tidak akan pernah sia-sia.
Jadi, apakah mengejar beasiswa itu mempunyai hikmah bagiku? Tentu saja. Aku belajar berkompetisi lagi dan mempunyai cita-cita. Banyak orang yang bercerita di blognya, bahwa kehidupannya sekarang tidak sesemangat waktu mengejar beasiswa dulu. So?
Ayo mempunyai cita-cita dan berkompetisi lagi. Seperti pepatah, persiapan yang bertemu kesempatan akan mendatangkan kesuksesan!!!
Ayo siap-siap mendaftar beasiswa dan menjemput kesempatan itu.
Kalau anda tanyakan itu padaku, akan aku jawab dengan anggukan semangat "Ya".
Ketika aku SD, semua orang menyebutku anak pandai karena selalu mendapat rangking di kelas. Hal ini membuatku melengggang ringan hampir tanpa rintangan masuk SMP favorit di kotaku. SMP 1? Bukan, aku hanya masuk SMP 2. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa masuk SMP 1.
Aku masuk SMP 2 karena aku melihat kakakku yang sekolah di SMP 1 terlalu sering mengeluarkan biaya. Ongkos-ongkos itu tentu saja sangat memberatkan bapakku yang hanya berjualan pentol. Dan yang lebih penting lagi, di SMP 2 tidak ada pelajaran berenang (aku tidak bisa berenang saat itu hehe...). Tapi, setelah diterima di SMP 2, ternyata ada juga pelajaran berenang. Saat ada pelajaran renang, biasanya sehabis sholat subuh kakakku sudah harus berangkat ke sekolah.
Di SMP, otakku masih encer sehingga tidak mengalami kesulitan masuk SMA 1. Baru terasa bahwa aku bukan apa-apa ketika bersaing dengan mereka yang sama-sama cerdas. Aku sempat down melihat rangkingku yang melorot tak tertahankan. Tapi ternyata ada hikmah di balik itu semua. Aku belajar berkompetisi dalam lingkungan yang fair dan membentuk kebiasaan belajar.
Setelah selesai kuliah D-IV dan bekerja sebagai PNS, aku merasa ada yang aneh dan hilang dalam hidupku. Ya, semangatku! Semangatku sudah menghilang. Itu karena aku tidak sedang berusaha mengejar sesuatu dalam hidupku, aku sudah merasa nyaman. Aku tidak sedang berkompetisi lagi dan tidak mempunyai ambisi apa-apa dalam hidup. Daari sini aku mengambil kesimpulan, ternyata cita-cita itu penting dan harus selalu ada, apapun itu. Dulu aku beranggapan bahwa aku tidak perlu mempunyai cita-cita sehingga ketika maut menjemputku, aku tidak terlalu kecewa dengan kehidupan dunia.
Namun sekarang, aku merasa perlu hadirnya ambisi dan cita-cita itu walaupun nantinya cita-cita itu tidak akan tercapai, atau kematian akan memotongnya di tengah jalan. Dan aku menjadikan mengejar beasiswa menjadi cita-cita mulia yang bisa menjadi nyala semangat dalam hidup, tercapai atau tidak, itu urusan belakang.
Sejujurnya, aku sempat stuck dengan pekerjaan di kantor. Seperti orang bilang, sebagai PNS, rajin atau tidak, pintar atau tidak, gaji akan sama dan reward juga sama. Sebenarnya, tidak masalah bagiku gaji sedikit atau banyak, namun semangat untuk berkompetisi ini ternyata penting untuk menumbuhkan semangat kerja dan juga semangat hidup. Karena aku tidak mendapat sistem kompetisi ini di tempat kerja, aku berusaha memotivasi diri sendiri dengan membuat publikasi berstandar internasional. Ya, mungkin atasan tidak akan memberi reward apa-apa, tapi at least atasan akan menjadi tahu kemampuan bawahannya. Suatu hari nanti, aku yakin semua pekerjaan tidak akan pernah sia-sia.
Jadi, apakah mengejar beasiswa itu mempunyai hikmah bagiku? Tentu saja. Aku belajar berkompetisi lagi dan mempunyai cita-cita. Banyak orang yang bercerita di blognya, bahwa kehidupannya sekarang tidak sesemangat waktu mengejar beasiswa dulu. So?
Ayo mempunyai cita-cita dan berkompetisi lagi. Seperti pepatah, persiapan yang bertemu kesempatan akan mendatangkan kesuksesan!!!
Ayo siap-siap mendaftar beasiswa dan menjemput kesempatan itu.
Kamis, 01 Desember 2011
Menunggu Pengumuman Beasiswa
Menunggu ternyata menyebabkan banyak maslahat. Pekerjaan terbengkelai, silaturahim terputus, ..
Langganan:
Postingan (Atom)



