Setelah Stuned award letter sampai ke kantor, maka pertama-tama aku memberi tahu kepala kantor (sambil tersenyum sumringah). Karena aku bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten/Kota, maka perlu izin berlapis untuk bisa berangkat ke Belanda. Semua tingkat mempunyai hak untuk berkata "NO" pada keinginanku untuk berangkat short course, jadi aku harus hati-hati menjelaskan kepada setiap atasan. Apalagi aku mendaftar Stuned ini tanpa sepengetahuan kantor, jadi sempat deg-degan.. Diizinkan apa tidak ya?
Kepada atasan langsung, alhamdulillah lancar. Kepala kantor menyarankan untuk membuat surat kepada Kepala BPS Provinsi tentang langkah2 selanjutnya yang harus diambil untuk mengikuti short course di luar negeri. Beruntung sekali kasubag kepegawaian adalah teman baik sewaktu bekerja di pulau Madura, jadi komunikasiku dengan BPS Provinsi lebih cair. (Temanku yang dari Jabar, keinginannya untuk ikut Short Course di Belanda terganjal di kasubag kepegawaian ini, sedihnya..) :(
Tanggal 18 Juli 2012 kepegawaian BPS Prov mengirimkan email ke bagian Kerjasama, Protokol dan Penyiapan Materi Pimpinan di BPS RI tentang rencana keberangkatanku dan ditembuskan berita email tsb ke alamat emailku. Ternyata, untuk urusan short course, kita tidak perlu minta izin ke Pusdiklat karena waktu coursenya singkat dan tidak bergelar. Pihak kerjasama membalas email tersebut dan bersedia membantu mengurus hal-hal yang diperlukan untuk keberangkatan, seperti Surat Persetujuan (SP) Sekneg, paspor dinas dari Kementerian Luar Negeri
(plus exit permit dan rekomendasi visanya), dan visa dari kedutaan
Belanda.
Selanjutnya..
Komunikasi antara aku dan bagian kerjasama BPS RI diserahkan sepenuhnya oleh BPS Provinsi, jadi aku berhubungan langsung dengan staf di bagian kerjasama. Pertama, aku dikirimi file tentang alur bepergian dinas di lingkungan BPS.
Untungnya aku bekerja di instansi yang ga ribet-ribet amat untuk urusan bepergian ke LN, jadi aku tinggal mengirimkan persyaratan yang diminta (warna hijau) saja, setelah itu tinggal menunggu semua dokumen jadi.. Gampang kan? Hidup BPS!
Kebetulan aku mempunyai foto dengan latar belakang beda2. Untuk kantor, latar belakang biru. Untuk lamaran beasiswa sana-sini, aku menggunakan foto latar belakang merah. Untuk syarat keberangkatanku ini, aku berusaha hanya mengganti latar belakang lewat program photoshop..
Hasilnya, tidak begitu bagus. Rambutku yang tidak beraturan (hihi..) membuat mas-mas di konter manipulasi foto agak kesulitan.. Aku sempat menawar pada staf di bag kerjasama BPS RI dan dijawab: foto latar belakangnya kurang putih or masih kelihatan bekas foto editan :D..
Ya sudah, aku foto lagi, toh yang akan merasakan manfaatnya aku sendiri..
Aku pernah tanya ke bagian kerjasama, apa aku harus mengurus passport lagi padahal aku sudah mempunyai passport hijau. Jawabannya, Ya, harus. Nanti yang akan digunakan untuk bepergian ke LN adalah passport biru, bukan hijau, dan aku akan dianggap melakukan PERJALANAN DINAS, BUKAN CUTI DI LUAR TANGGUNG JAWAB NEGARA..
Maaf aku tulis dengan huruf kapital karena sangat vital hehe..
Aku juga ditawari pihak Neso Indonesia untuk mengurus visa schengen, tapi aku males pergi ke Jakarta. Pertama Neso akan mengirim email berisi dokumen pengajuan visa yang harus kita isi, kemudian kita harus mengembalikannya bersama dengan passport dan sebuah foto. Ketika jadi, kita akan dihubungi pihak Neso dan kita harus mengambil visanya langsung di kedubes Belanda Jakarta.
Pada suatu hari Mbak Susi dari Neso menelepon apakah aku akan pergi ke Belanda dengan passport hijau apa biru. Kalau biru, aku tidak perlu apply visa namun efeknya aku hanya bisa bepergian di negara Benelux saja. Kalau hijau, aku harus apply visa dan aku bisa pergi ke seluruh Eropa kecuali Inggris, dan Neso bersedia membantu.
Setelah cukup lama mikir, aku putuskan tidak apply visa. Alasanku sederhana, pertama, aku ke Belanda dengan tujuan utama belajar, jadi tujuan jalan2 aku kalahkan dulu. Biarlah aku jalan2 di Benelux saja, mungkin nanti kalau sudah diterima master bisa jalan2 lebih jauh.. Amiin.. Kedua, bulan Nov-Jan 2012 adalah bulan2 dingin, pasti sulit dan dingin jalan2 di bulan2 itu, jadi kurasa tidak menarik...
Setelah dokumen siap, siap2 koper berangkat ke Gronigen..
Stasiun Groningen..
Bayangan pertama tentang Groningen City
Senin, 14 Januari 2013
Sabtu, 05 Januari 2013
Persiapan Perjalanan ke Groningen..
Menerima pengumuman sebagai awardee beasiswa short course dari Stuned, yang pasti senang dan bersyukur.. (harusnya ga boleh begitu ya, semua sudah ada yang ngatur, tidak keterima juga harusnya senang dan bersyukur). Tapi kesenangan ini hanya bisa disimpan di dalam hati, sambil ketawa-ketiwi sendiri, ah pokoknya berwarna rasanya hari-hari setelah pengumuman itu..
Namun semenjak menerima pengumuman sbg awardee pada 10 Mei 2012, kok belum ada email lagi dari Siska ya. Jangan-jangan.. beasiswanya dibatalkan gara-gara (bayangin yang jelek-jelek) krisis moneter di Eropa.. Wah, ga seru dan ga boleh.. Hampir tiap hari aku pantau blogger para penerima beasiswa Stuned, namun belum ada yang ngomongin Award letter dari Stuned tuh. Kepastian kita mendapat beasiswa Stuned ya dari award letter itu. Tanpa itu, ya kita tidak bisa bergerak jauh, misalnya woro-woro ke teman2 kalau kita dapat beasiswa, atau ngasih tahu atasan kalau kita mau pergi sejenak hehe..
Pada tanggal 2 Juli 2012 aku melihat blog anak Unsri memajang award letter dari Stuned untuk program masternya. Wah, aku jadi deg-degan, kok aku belum terima, apa benar pikiran burukku bulan-bulan lalu ya?
Daripada jadi bisul karena terlalu lama menunggu (hampir 2 bulan kan?), mending tanya Siska saja lewat email, pakai jurus muka badak lagi. Sampai sekarang aku belum tahu lho yang namanya mbak Siska Aprilianti, tapi sepertinya orangnya gesit banget, email pasti akan segera di balas satu hari sesudahnya. Jawaban Siska, Neso memang mendahulukan award letter untuk awardee master kemudian baru short course, karena start kuliah untuk master bulan September sedangkan untuk jadwal short courseku masih November (jadi malu, ketahuan terlalu bersemangat..). Tapi award letterku katanya sudah ditandatangani direktur Neso hari itu, jadi bisa langsung dikirim sesudahnya.
O ya, untuk calon master students akan menerima pre-dept di Erasmus Huis, Jakarta. Pingin datang sebenarnya, tapi Siska bilang sifatnya sukarela untuk peserta short course karena jangka waktunya yang pendek, namun sangat disarankan bagi calon master student. Setelah menimbang-nimbang, di masak, kemudian jadi keputusan.. aku ga datang, uangnya bisa untuk beli2 persiapan ke Belanda..
Namun dalam email aku minta disisakan tas oranye dan topi oranye, mudah-mudahan masih ada ya. Aku akan kabari lagi setelah pulang dari Groningen dan ke kantor Neso Jakarta untuk menyerahkan copy sertifikat short courseku sekaligus re-imburse tiket pesawat lokal (sby-jkt).
Beberapa hari kemudian, sebuah amplop putih bersih dan bagus dari JNE bertuliskan neso indonesia datang ke kantor. Senang? Tentu saja. Bahagia? Jelas.
Ini neh award letter untuk short courseku..
Dengan datangnya surat ini, keabsahanku sebagai awardee Stuned untuk short course sudah tidak diragukan lagi. Tentu saja, setelah ini aku bisa woro-woro kepada bapak, atasan, teman, istri, sahabat, tetangga, dsb.. hehe.. Aku terdiam di sudut ruangan kantor, tidak bisa menangis pun tertawa, aku mencoba melukiskan perasaanku kala itu namun tidak ada kata yang mampu mewakili. Aku bahagia sekaligus teringat almarhumah emak, dulu aku pernah berkata kepadanya untuk bercita-cita terbang ke Belanda, dan sekarang kesampaian juga. Hiks .. hiks..
Tanggal 10 Juli, mbak Siska juga mengirim email lagi untuk pengiriman itinerary receipt tiket pesawat keberangkatanku ke Schipol. Nanti kalau sudah pulang ke Indonesia aku upload ya, soale tiket itu untuk pulang dan pergi hehe..
Well, lengkap sudah hal-hal legal yang diperlukan untuk kabar-kabari ke atasan, besok ceritanya dilanjutkan lagi tentang ribetnya PNS yang mau jalan2 ke LN..
Namun semenjak menerima pengumuman sbg awardee pada 10 Mei 2012, kok belum ada email lagi dari Siska ya. Jangan-jangan.. beasiswanya dibatalkan gara-gara (bayangin yang jelek-jelek) krisis moneter di Eropa.. Wah, ga seru dan ga boleh.. Hampir tiap hari aku pantau blogger para penerima beasiswa Stuned, namun belum ada yang ngomongin Award letter dari Stuned tuh. Kepastian kita mendapat beasiswa Stuned ya dari award letter itu. Tanpa itu, ya kita tidak bisa bergerak jauh, misalnya woro-woro ke teman2 kalau kita dapat beasiswa, atau ngasih tahu atasan kalau kita mau pergi sejenak hehe..
Pada tanggal 2 Juli 2012 aku melihat blog anak Unsri memajang award letter dari Stuned untuk program masternya. Wah, aku jadi deg-degan, kok aku belum terima, apa benar pikiran burukku bulan-bulan lalu ya?
Daripada jadi bisul karena terlalu lama menunggu (hampir 2 bulan kan?), mending tanya Siska saja lewat email, pakai jurus muka badak lagi. Sampai sekarang aku belum tahu lho yang namanya mbak Siska Aprilianti, tapi sepertinya orangnya gesit banget, email pasti akan segera di balas satu hari sesudahnya. Jawaban Siska, Neso memang mendahulukan award letter untuk awardee master kemudian baru short course, karena start kuliah untuk master bulan September sedangkan untuk jadwal short courseku masih November (jadi malu, ketahuan terlalu bersemangat..). Tapi award letterku katanya sudah ditandatangani direktur Neso hari itu, jadi bisa langsung dikirim sesudahnya.
O ya, untuk calon master students akan menerima pre-dept di Erasmus Huis, Jakarta. Pingin datang sebenarnya, tapi Siska bilang sifatnya sukarela untuk peserta short course karena jangka waktunya yang pendek, namun sangat disarankan bagi calon master student. Setelah menimbang-nimbang, di masak, kemudian jadi keputusan.. aku ga datang, uangnya bisa untuk beli2 persiapan ke Belanda..
Namun dalam email aku minta disisakan tas oranye dan topi oranye, mudah-mudahan masih ada ya. Aku akan kabari lagi setelah pulang dari Groningen dan ke kantor Neso Jakarta untuk menyerahkan copy sertifikat short courseku sekaligus re-imburse tiket pesawat lokal (sby-jkt).
Beberapa hari kemudian, sebuah amplop putih bersih dan bagus dari JNE bertuliskan neso indonesia datang ke kantor. Senang? Tentu saja. Bahagia? Jelas.
Ini neh award letter untuk short courseku..Dengan datangnya surat ini, keabsahanku sebagai awardee Stuned untuk short course sudah tidak diragukan lagi. Tentu saja, setelah ini aku bisa woro-woro kepada bapak, atasan, teman, istri, sahabat, tetangga, dsb.. hehe.. Aku terdiam di sudut ruangan kantor, tidak bisa menangis pun tertawa, aku mencoba melukiskan perasaanku kala itu namun tidak ada kata yang mampu mewakili. Aku bahagia sekaligus teringat almarhumah emak, dulu aku pernah berkata kepadanya untuk bercita-cita terbang ke Belanda, dan sekarang kesampaian juga. Hiks .. hiks..
Tanggal 10 Juli, mbak Siska juga mengirim email lagi untuk pengiriman itinerary receipt tiket pesawat keberangkatanku ke Schipol. Nanti kalau sudah pulang ke Indonesia aku upload ya, soale tiket itu untuk pulang dan pergi hehe..
Well, lengkap sudah hal-hal legal yang diperlukan untuk kabar-kabari ke atasan, besok ceritanya dilanjutkan lagi tentang ribetnya PNS yang mau jalan2 ke LN..
Minggu, 25 November 2012
Di Groningen aku Ingat Bapak...
Dulu aku tersenyum ketika kakak lelakiku berkata ia ingat bapak saat bekerja ikut anaknya pakdhe di Situbondo. Di warung tempat dia makan sehari-hari, terdapat seorang lelaki yang mirip bapak. Akibatnya, dia tidak kerasan bekerja di Situbondo dan memilih pulang.
Dalam hati aku berkata, bapak memang orang yang sangat berjasa bagi anak-anaknya, namun tautan hati seorang anak biasanya lebih lekat kepada ibu daripada bapak. Dan kakakku ini lebih memilih pulang demi bapak.. Sungguh anak yang berbakti, pikirku. Waktu itu aku juga kuliah di Jakarta, di depan kontrakan juga ada orang yang mirip bapak, dan aku sama sekali tidak berpikir untuk pulang hehe.. Apa karena aku sedang kuliah sehingga tidak diperbolehkan untuk seenaknya memutuskan untuk pulang dan berhenti kuliah? Tapi yang jelas, waktu itu aku memang tidak ingin pulang, rumah kontrakanku berisi segala jenis manusia yang sangat menarik untuk dikenal lebih jauh.
Ketika emak tiada, tinggallah bapak seorang diri di rumah tempat kami bertujuh dilahirkan. Rumah besar itu memang kosong, anak-anak bapak sudah punya rumah sendiri dan tidak ada yang mau hidup seatap dengan bapak lagi. Bapak memang terkenal temperamental, tapi bapak ya tetap bapak, seorang manusia yang telah menghadirkan kita di dunia. Cuma kakak lelakiku di atas (kebetulan belum punya rumah) yang ingin hidup dengan bapak, namun istrinya kemudian melahirkan dan lebih memilih hidup dengan orang tuanya.
Banyak yang menyayangkan, kenapa emak dipanggil Tuhan lebih dulu. Tapi takdir bukanlah milik anak-anak dari orang tua. Rumah menjadi tidak terurus, peralatan masak menjadi kotor, memang lelaki paling males bersih2 (mengaca pada diri sendiri hihi..). Kita 7 bersaudara masih sering menangis ketika membicarakan emak, dan membayangkan hidup berat yang dijalani bapak sekarang.
Bapak memang sudah tua, makan dari anak-anaknya. Tapi untuk mengisi hari tuanya, bapak masih ingin ke sawah. Aku perkenankan beliau ke sawah untuk mengisi hari tua, kalau tidak begitu, apa yang mau dikerjakan? Luntang-lantung di rumah? Akan lebih merana kalau begitu. Cuma aku pernah meminta kepada bapak untuk mengurangi luas sawah sewaannya, ya sekedar untuk mengisi waktu saja.
Setelah aku ke Groningen, nyata sekali aku ingat bapak..
Di sini aku masak sendiri (ya ada banyak orang di dapur sih), makan hidangan sendiri dan membersihkan peralatan makan sendiri. Tidak apa2, aku sudah menyadari bahwa harus hidup mandiri di Belanda, namun aku sepertinya sedang merasakan hidup yang sekarang bapak jalani. Entah kenapa aku menjadi kangen dengan bapak, ingin meminta maaf karena datang menjenguk hanya satu kali dalam sebulan. Bapak pasti merasakan kesepian seperti yang aku rasakan sekarang. Tidak perlu bermakna suatu obrolan, karena aku yakin bapak sudah senang jika diajak mengobrol.
Dapur bersama di International Student Housing WInschoterdiep
Aku mulai membayangkan kondisi diriku ketika nanti anak2 sudah besar dan hidup jauh dari dariku dan ketika istriku nanti tiada. Aku akan menjalani hidup yang sama seperti aku sekarang di Belanda, mandiri, serba sendiri dan sepi. Entahlah, aku merasa hidup ini akan terbalik. Dulu ketika kita dilahirkan, semua orang datang berkunjung untuk menengok, semua tetangga dan teman orang tua bergembira dengan kedatangan kita di dunia. Ketika kita tua, mengapa harus sendiri menjalani sisa hidup, padahal kekuatan tubuh kembali seperti bayi? Mengapa tetangga dan anak-anak mulai menjauh? Ya, aku mengeri betapa bedanya topik yang dibicarakan tetangga2 yang masih muda dengan yang sudah tua.
Entahlah, setelah ini, aku ingin lebih memperbanyak frekuensi pulang ke rumah. Sekedar berbincang dengan bapak dan saudara2, mengajak anak2 bermalam di rumah bapak, dll.
Dalam hati aku berkata, bapak memang orang yang sangat berjasa bagi anak-anaknya, namun tautan hati seorang anak biasanya lebih lekat kepada ibu daripada bapak. Dan kakakku ini lebih memilih pulang demi bapak.. Sungguh anak yang berbakti, pikirku. Waktu itu aku juga kuliah di Jakarta, di depan kontrakan juga ada orang yang mirip bapak, dan aku sama sekali tidak berpikir untuk pulang hehe.. Apa karena aku sedang kuliah sehingga tidak diperbolehkan untuk seenaknya memutuskan untuk pulang dan berhenti kuliah? Tapi yang jelas, waktu itu aku memang tidak ingin pulang, rumah kontrakanku berisi segala jenis manusia yang sangat menarik untuk dikenal lebih jauh.
Ketika emak tiada, tinggallah bapak seorang diri di rumah tempat kami bertujuh dilahirkan. Rumah besar itu memang kosong, anak-anak bapak sudah punya rumah sendiri dan tidak ada yang mau hidup seatap dengan bapak lagi. Bapak memang terkenal temperamental, tapi bapak ya tetap bapak, seorang manusia yang telah menghadirkan kita di dunia. Cuma kakak lelakiku di atas (kebetulan belum punya rumah) yang ingin hidup dengan bapak, namun istrinya kemudian melahirkan dan lebih memilih hidup dengan orang tuanya.
Banyak yang menyayangkan, kenapa emak dipanggil Tuhan lebih dulu. Tapi takdir bukanlah milik anak-anak dari orang tua. Rumah menjadi tidak terurus, peralatan masak menjadi kotor, memang lelaki paling males bersih2 (mengaca pada diri sendiri hihi..). Kita 7 bersaudara masih sering menangis ketika membicarakan emak, dan membayangkan hidup berat yang dijalani bapak sekarang.
Bapak memang sudah tua, makan dari anak-anaknya. Tapi untuk mengisi hari tuanya, bapak masih ingin ke sawah. Aku perkenankan beliau ke sawah untuk mengisi hari tua, kalau tidak begitu, apa yang mau dikerjakan? Luntang-lantung di rumah? Akan lebih merana kalau begitu. Cuma aku pernah meminta kepada bapak untuk mengurangi luas sawah sewaannya, ya sekedar untuk mengisi waktu saja.
Setelah aku ke Groningen, nyata sekali aku ingat bapak..
Di sini aku masak sendiri (ya ada banyak orang di dapur sih), makan hidangan sendiri dan membersihkan peralatan makan sendiri. Tidak apa2, aku sudah menyadari bahwa harus hidup mandiri di Belanda, namun aku sepertinya sedang merasakan hidup yang sekarang bapak jalani. Entah kenapa aku menjadi kangen dengan bapak, ingin meminta maaf karena datang menjenguk hanya satu kali dalam sebulan. Bapak pasti merasakan kesepian seperti yang aku rasakan sekarang. Tidak perlu bermakna suatu obrolan, karena aku yakin bapak sudah senang jika diajak mengobrol.
Dapur bersama di International Student Housing WInschoterdiep
Aku mulai membayangkan kondisi diriku ketika nanti anak2 sudah besar dan hidup jauh dari dariku dan ketika istriku nanti tiada. Aku akan menjalani hidup yang sama seperti aku sekarang di Belanda, mandiri, serba sendiri dan sepi. Entahlah, aku merasa hidup ini akan terbalik. Dulu ketika kita dilahirkan, semua orang datang berkunjung untuk menengok, semua tetangga dan teman orang tua bergembira dengan kedatangan kita di dunia. Ketika kita tua, mengapa harus sendiri menjalani sisa hidup, padahal kekuatan tubuh kembali seperti bayi? Mengapa tetangga dan anak-anak mulai menjauh? Ya, aku mengeri betapa bedanya topik yang dibicarakan tetangga2 yang masih muda dengan yang sudah tua.
Entahlah, setelah ini, aku ingin lebih memperbanyak frekuensi pulang ke rumah. Sekedar berbincang dengan bapak dan saudara2, mengajak anak2 bermalam di rumah bapak, dll.
Minggu, 11 November 2012
Awal perjalanan ke Groningen...
Pada 4 November 2012 pagi..
Aku masih tiduran menikmati tempat tidur yang akan aku tinggalkan. Everything would be never the same, dan aku akan merindukan semuanya walau kepergianku cuma 3 bulan. Koper baru seharga 1 juta dengan standar TSA dan isinya sudah beres, namun kuncinya masih belum bisa dibuka. Aku tidak tahu kenapa, yang pasti aku pasti lupa dengan kombinasi nomor yang diberikan mas penjualnya di CITO surabaya kemarin. Tapi aku ingat-ingat lagi, sepertinya aku tidak pernah diberi kombinasi nomor..
Aku bangkit dari tidur dan mulai menyiapkan langkah antisipasi, yup membeli gembok di Alfa Mart. Ya.. semua boleh tertawa, koper seharga 1 juta namun tidak bisa dikunci, miris kan? Sementara istriku, berusaha menghubungi toko Bag Center tempat aku membeli koper tersebut. Karena belum jam 10 pagi, toko belum buka, CS CITO Surabaya juga belum buka, terpaksa istriku menghubungi kantor pusatnya di Jakarta (terima kasih istriku). Namun kantor pusat di Jakarta tidak bisa memberi solusi lain selain membawa koper tersebut ke tempat aku membelinya semula, padahal koper tersebut telah berisi barang BERATTT banget.
Aku sudah capek dengan perkara tersebut, dan istriku masih ngotot dengan mencoba-coba kombinasi nomor yang mungkin bisa. Aku juga berusaha mengakses internet, mencari tahu bagaimana membuka koper yang terkunci. Dalam hati aku menggerutu, aku telah mempersiapkan kepergianku ini jauh hari, namun pada hari H tetap saja keruwetan itu masih ada. Akhirnya selang beberapa saat, istriku berteriak..
Ayah, kunci kopernya sudah bisa dibuka dengan nomor kombinasi bla bla bla..
Aku kaget dan terharu, istriku memang orangnya ulet dan tak mudah menyerah, kalau aku suka memanfaatkan pilihan lain yang masih tersedia. Dengan koper yang sudah bisa terkunci, aku merasa perjalanan ke Groningen tidak akan seperti orang udik, koper bagus dengan kunci yang bagus. Hmm.. perfect. Langkah selanjutnya, menghubungi taksi..
Setengah 12 aku menghubungi taksi kemudian sholat dan makan siang. Sepuluh menit kemudian, operator taksi menelepon lagi yang menyatakan bahwa taksi di pangkalan kosong. Aduh, aku pindah operator taksi, dan berjanji akan datang 15 menit lagi. Sayangnya, dalam waktu yang ditentukan taksi tersebut belum datang juga. Aku lihat jam tangan, 12.20, closing chek in 12.30. Deg-degan karena terlalu lama menunggu, aku menjadi panik. Tanpa pikir panjang, aku bersama istri mencari taksi langsung di jalan. Agak lama, dapat. Namun ketika aku meninggalkan gang rumah, taksi pesanan datang. Entahlah apa yang terjadi sesudah itu, mungkin si sopir meminta cancel fee.
Taksi meluncur di jalan tol dengan kencang, sesekali bunyi beep terdengar yang menandakan kecepatan melebihi aturan. Berkali-kali aku melihat jam, dan sampai di bandara pukul 12.50, untungnya aku sudah chek in dengan layanan internet. Sampai di petugas security, petugasnya tanya mau kemana? Apa bawa sambel pecel? Mau ke Belanda, of course aku bawa sambel pecel yang dipersiapkan khusus oleh istriku. Apa ada yang aneh? Petugas tersebut hanya cengar-cengir saja, aku sih juga senyum-senyum saja..
Sampai di penimbangan, 39 kilo? Seketika aku panik, garuda hanya memberi gratis 20 kg, MAS hanya 30 kg. Kemana sisa 9 kilo harus aku buang? Akhirnya mbak penjaga konter check in (sangat baik) menanyakan apakah MAS sering memberi toleransi ke penumpangnya. Ternyata malah stick to the rules, jadi aku harus membuang 9 kg. Stop, jangan dibuang pak, kata petugas. Keluarkan barangnya sampai 9 kg, terus titipkan barangnya ke CS dan suruh keluarga bapak mengambilnya. Oke, aku keluarkan barang2 yang kira2 masih bisa aku beli di Belanda, namun mas yang bagian ngikat koper memberi bantuan untuk menjadi tempat penitipan. Aku mengiyakan saja..
Keringatku masih membanjir, takut ketinggalan pesawat kok malah overweight..
Setelah selesai, aku mengucapkan terima kasih kepada mbak yang telah membantu dan mas yang bagian ikat koper, minta nomor HP agar seseorang nanti bisa mengambil barang overweightku. Huh, aku berjalan menuju pesawat sambil nelpon dan SMS istriku. Pulsa terbatas dan baterei mau habis (sangat tidak disarankan). Duduk di pesawat sambil termenung, aku membayangkan betapa beratnya awal perjalanan menuju Groningen ini. Semoga setelah ini muncul banyak kemudahan.. Amiiin
Aku masih tiduran menikmati tempat tidur yang akan aku tinggalkan. Everything would be never the same, dan aku akan merindukan semuanya walau kepergianku cuma 3 bulan. Koper baru seharga 1 juta dengan standar TSA dan isinya sudah beres, namun kuncinya masih belum bisa dibuka. Aku tidak tahu kenapa, yang pasti aku pasti lupa dengan kombinasi nomor yang diberikan mas penjualnya di CITO surabaya kemarin. Tapi aku ingat-ingat lagi, sepertinya aku tidak pernah diberi kombinasi nomor..
Aku bangkit dari tidur dan mulai menyiapkan langkah antisipasi, yup membeli gembok di Alfa Mart. Ya.. semua boleh tertawa, koper seharga 1 juta namun tidak bisa dikunci, miris kan? Sementara istriku, berusaha menghubungi toko Bag Center tempat aku membeli koper tersebut. Karena belum jam 10 pagi, toko belum buka, CS CITO Surabaya juga belum buka, terpaksa istriku menghubungi kantor pusatnya di Jakarta (terima kasih istriku). Namun kantor pusat di Jakarta tidak bisa memberi solusi lain selain membawa koper tersebut ke tempat aku membelinya semula, padahal koper tersebut telah berisi barang BERATTT banget.
Aku sudah capek dengan perkara tersebut, dan istriku masih ngotot dengan mencoba-coba kombinasi nomor yang mungkin bisa. Aku juga berusaha mengakses internet, mencari tahu bagaimana membuka koper yang terkunci. Dalam hati aku menggerutu, aku telah mempersiapkan kepergianku ini jauh hari, namun pada hari H tetap saja keruwetan itu masih ada. Akhirnya selang beberapa saat, istriku berteriak..
Ayah, kunci kopernya sudah bisa dibuka dengan nomor kombinasi bla bla bla..
Aku kaget dan terharu, istriku memang orangnya ulet dan tak mudah menyerah, kalau aku suka memanfaatkan pilihan lain yang masih tersedia. Dengan koper yang sudah bisa terkunci, aku merasa perjalanan ke Groningen tidak akan seperti orang udik, koper bagus dengan kunci yang bagus. Hmm.. perfect. Langkah selanjutnya, menghubungi taksi..
Setengah 12 aku menghubungi taksi kemudian sholat dan makan siang. Sepuluh menit kemudian, operator taksi menelepon lagi yang menyatakan bahwa taksi di pangkalan kosong. Aduh, aku pindah operator taksi, dan berjanji akan datang 15 menit lagi. Sayangnya, dalam waktu yang ditentukan taksi tersebut belum datang juga. Aku lihat jam tangan, 12.20, closing chek in 12.30. Deg-degan karena terlalu lama menunggu, aku menjadi panik. Tanpa pikir panjang, aku bersama istri mencari taksi langsung di jalan. Agak lama, dapat. Namun ketika aku meninggalkan gang rumah, taksi pesanan datang. Entahlah apa yang terjadi sesudah itu, mungkin si sopir meminta cancel fee.
Taksi meluncur di jalan tol dengan kencang, sesekali bunyi beep terdengar yang menandakan kecepatan melebihi aturan. Berkali-kali aku melihat jam, dan sampai di bandara pukul 12.50, untungnya aku sudah chek in dengan layanan internet. Sampai di petugas security, petugasnya tanya mau kemana? Apa bawa sambel pecel? Mau ke Belanda, of course aku bawa sambel pecel yang dipersiapkan khusus oleh istriku. Apa ada yang aneh? Petugas tersebut hanya cengar-cengir saja, aku sih juga senyum-senyum saja..
Sampai di penimbangan, 39 kilo? Seketika aku panik, garuda hanya memberi gratis 20 kg, MAS hanya 30 kg. Kemana sisa 9 kilo harus aku buang? Akhirnya mbak penjaga konter check in (sangat baik) menanyakan apakah MAS sering memberi toleransi ke penumpangnya. Ternyata malah stick to the rules, jadi aku harus membuang 9 kg. Stop, jangan dibuang pak, kata petugas. Keluarkan barangnya sampai 9 kg, terus titipkan barangnya ke CS dan suruh keluarga bapak mengambilnya. Oke, aku keluarkan barang2 yang kira2 masih bisa aku beli di Belanda, namun mas yang bagian ngikat koper memberi bantuan untuk menjadi tempat penitipan. Aku mengiyakan saja..
Keringatku masih membanjir, takut ketinggalan pesawat kok malah overweight..
Setelah selesai, aku mengucapkan terima kasih kepada mbak yang telah membantu dan mas yang bagian ikat koper, minta nomor HP agar seseorang nanti bisa mengambil barang overweightku. Huh, aku berjalan menuju pesawat sambil nelpon dan SMS istriku. Pulsa terbatas dan baterei mau habis (sangat tidak disarankan). Duduk di pesawat sambil termenung, aku membayangkan betapa beratnya awal perjalanan menuju Groningen ini. Semoga setelah ini muncul banyak kemudahan.. Amiiin
Sabtu, 10 November 2012
Short Course di University of Groningen dengan Stuned Scholarship (3)
Setelah merenung cukup lama menghitung peluang diterima beasiswa Stuned, akhirnya aku memberanikan diri mendaftar beasiswa Stuned. Coba-coba, iseng-iseng, kalau tidak mencoba tidak akan tahu, merupakan motivasi kala itu untuk mendaftar. Maklum, bukan perempuan, bukan instansi prioritas dan bukan berasal dari luar Jawa.
Menurutku, mendaftar Stuned scholarship tidak memerlukan banyak dokumen, yang paling penting adalah penulisan essay di dokumen. Cuma 4 x 100 kalimat kalau tidak salah, sangat simple dibanding dengan mendaftar NFP. Sebenarnya instansiku juga membuka pendaftaran beasiswa StuNed, namun masih harus pakai 2 buah surat rekomendasi, dan tidak perlu pakai LoA. Menurutku, pelamar dari instansiku akan kalah bersaing dengan pelamar lain yang sudah mendapat LoA, jadi aku memutuskan untuk tidak melamar beasiswa Stuned lewat Pusdiklat.
Perlu diketahui, bersamaan dengan pendaftaran Stuned ini, Stiny juga terus mengirim email (lebih dari sekali) tentang pemberitahuan untuk segera mendaftar beasiswa NFP. Setiap dikirimi email, aku selalu bilang sudah mendaftar NFP dan juga Stuned. Lain dengan Stuned, NFP mensyaratkan 4 lembar essay yakni motivation letter, manfaat bagi organisasi, manfaat bagi negara dan rencana setelah pendidikan. Wadueh, dengan nilai skor IELTS 5,5 untuk writing, penulisan 4 essay tersebut cukup membuatku termehek-mehek.. (Jangan ditiru ya.. :)
Akhirnya pada tanggal 19 Maret 2012 aku menerima email dari Siska Aprilianti, senior scholarship officer dari Neso Indonesia yang menyatakan bahwa mereka telah menerima aplikasi beasiswa untuk program short courseku.
Menurutku, mendaftar Stuned scholarship tidak memerlukan banyak dokumen, yang paling penting adalah penulisan essay di dokumen. Cuma 4 x 100 kalimat kalau tidak salah, sangat simple dibanding dengan mendaftar NFP. Sebenarnya instansiku juga membuka pendaftaran beasiswa StuNed, namun masih harus pakai 2 buah surat rekomendasi, dan tidak perlu pakai LoA. Menurutku, pelamar dari instansiku akan kalah bersaing dengan pelamar lain yang sudah mendapat LoA, jadi aku memutuskan untuk tidak melamar beasiswa Stuned lewat Pusdiklat.
Perlu diketahui, bersamaan dengan pendaftaran Stuned ini, Stiny juga terus mengirim email (lebih dari sekali) tentang pemberitahuan untuk segera mendaftar beasiswa NFP. Setiap dikirimi email, aku selalu bilang sudah mendaftar NFP dan juga Stuned. Lain dengan Stuned, NFP mensyaratkan 4 lembar essay yakni motivation letter, manfaat bagi organisasi, manfaat bagi negara dan rencana setelah pendidikan. Wadueh, dengan nilai skor IELTS 5,5 untuk writing, penulisan 4 essay tersebut cukup membuatku termehek-mehek.. (Jangan ditiru ya.. :)
Akhirnya pada tanggal 19 Maret 2012 aku menerima email dari Siska Aprilianti, senior scholarship officer dari Neso Indonesia yang menyatakan bahwa mereka telah menerima aplikasi beasiswa untuk program short courseku.
Dear all,
Thank
you for your interest in the StuNed scholarship programme for short
course in 2012. We have received your application for financial support
through the StuNed
scholarship programme in good order.
Please
kindly be informed that the selection will be held in April 2012. You
can expect to receive the results by phone or e-mail in May 2012. Before
the announcement,
we prefer not to receive any inquiries by e-mail or telephone calls
about the results.
Best regards,
Siska Aprilianti
Senior Scholarships Officer
Ternyata, yang apply beasiswa berjumlah 16 orang dan alamat email orang per orang ini tidak di script sehingga aku bisa menghitung peluangku. Hmm.. ternyata peminatnya tidak banyak kok, kenapa orang-orang tidak mau mencoba ya? Salah satu syarat paling adalah LoA, dan itu membuat banyak orang enggan, termasuk aku dulu.
Pada tanggal 22 Maret 2012, aku menerima email lagi dari Siska bahwa dia juga menerima aplikasi beasiswa untuk program masterku. Ya, akhirnya aku bisa mengirim 2 aplikasi sekaligus, dan aku berharap Allah menerima dan mendengar doaku, at least untuk short course kalau masternya tidak diterima. Jangan dua-duanya tidak diterima ya Allah (doanya mengharappppp banget).
Setelah menunggu untuk waktu yang terasa lamaaaa banget (aku selingi waktu ini dengan mengirim aplikasi beasiswa AS-NZ, akhirnya tanggal 9 Mei 2012 Siska mengirimi lagi email tentang hasil seleksi beasiswa Stuned.
Dear
Suzatmo Putro Suwari,
Thank
you for your interest in the StuNed scholarship programme 2012. We have
received your application for financial support through the StuNed
scholarship programme
in good order.
The
Embassy of the Kingdom of the Netherlands has decided upon the StuNed
scholarship to be awarded. In this regards, not all candidates could be
awarded due to
a very large number of good candidates and limited number of
scholarships available. Regretfully we have to inform you that you have
not been selected to receive StuNed scholarship 2012.
We
fully understand your disappointment about not being selected for this
scholarship. However, it is not possible to reconsider your application,
as all funds
have been allocated. You are welcome to apply in the future, or visit
the website
www.grantfinder.nl if you wish to explore other funding possibilities.
We trust we have informed you sufficiently. We wish you success in your future career.
Best regards,
Siska Aprilianti
Senior Scholarships Officer
Email di atas sontak membuatku lemas, menghela napas panjang dan ya... ternyata jalan untuk memperoleh beasiswa masih harus lebih panjang lagi. But, wait a minute, bukankah aku mendaftar untuk program short course dan master? Apakah pengumuman ini hanya untuk master atau short course saja? Untuk mengobati rasa kekecewaanku, aku mengirim email balik Siska yang menanyakan apakah email tersebut untuk aplikasi short course atau masterku? Dalam hati aku berharap agar ada perubahan hasil seleksi. Aku sadar bahwa sometimes kita harus pro aktif dan bergerak maju untuk mendapat sesuatu.
Besoknya, Siska mengirimi lagi email yang berikut :
Dear
Suzatmo Putro Suwari,
You
have submitted an application for the StuNed scholarship 2012. We are
now entering the final phase of the selection procedure. We would like
to know beforehand
that you are still available (for the duration of the study period) and
willing to accept the scholarship. Your personal circumstances might
have changed which prevent you from accepting or you might have been
offered another scholarship. Attached you can
also find StuNed Rules & Regulations, we kindly ask you also to
read it carefully.
Please let us know through email if you would be available or not. Thank you and we look forward to your soonest reply.
Best regards,
Siska Aprilianti
Senior Scholarships Officer
Wadeuhh.. terima kasih ya Allah, email tersebut tentu saja pertanda aku menerima beasiswa untuk short courseku ( ini disebutkan di heading email yang dikirim untukku). Akhirnya, penantian panjang untuk ke Belanda akan segera menjadi kenyataan.. Bulan-bulan berikutnya, aku dan Siska terus-menerus melalukan kontak email tentang rencana kepergianku ke Belanda. Dan tentu saja dengan Stiny Tiggelaar, aku memberitahukan rencana kedatangan dan keinginanku untuk segera berjumpa dengannya.
Ayo semangat bagi pencari beasiswa yang lain..
Senin, 30 Juli 2012
Akhirnya LoA itu datang ...
Setelah menunggu dalam suasana hati yang tidak menentu dan hari-hari penantian yang panjang (dan terasa lebih panjang lagi) karena sampai dua bulan, pada tanggal 23 Februari 2012 email yang kutunggu-tunggu dari Mrs. Tiggelaar yang memberitahukan kepastian kedatangan LoA-ku untuk short course mampir diinboxku.
Aku salin ya email dari beliau..
Aku salin ya email dari beliau..
Dear mr Suzatmo Putro
With pleasure i would like to inform you
that you are admitted to the Short Course
Demographic Methods and Analysis.
Please find enclosed admission
letter for the short course.
The original letter will be sent by regular
post.
Please note that the deadline
for the Stuned scholarship
is 15 march 2012!
and for the Nuffic (NFP) scholarship
is 1 March 2012.
Kindly inform me that you have
applied for these scholarships.
Best wishes
Stiny Tiggelaar
office manager
With pleasure i would like to inform you
that you are admitted to the Short Course
Demographic Methods and Analysis.
Please find enclosed admission
letter for the short course.
The original letter will be sent by regular
post.
Please note that the deadline
for the Stuned scholarship
is 15 march 2012!
and for the Nuffic (NFP) scholarship
is 1 March 2012.
Kindly inform me that you have
applied for these scholarships.
Best wishes
Stiny Tiggelaar
office manager
Oh my God... Thank you ya Allah..
Wait, jangan seneng dulu, belum juga dapat beasiswa hehe...
Tapi gapapalah senang dulu, aku merasa penantian panjang untuk mendapatkan LoA ini patut dikenang dalam sejarah hidupku, soalnya ini adalah LoA pertamaku... (semoga dapat lagi dari Universitas lain setelah itu Amiiin.....).
LoA short course.. Oh, LoA pertamaku
Minggu, 03 Juni 2012
Short Course di University of Groningen dengan Stuned Scholarship (2)
Setelah mengirim semua berkas secara online, maka dimulailah penantian panjang turunnya LoA untuk bisa bergabung short course di Belanda. Penantian ini panjang dan menjemukan (as always hehe...). Kadang sangat bosen, bahkan sempat jalan-jalan di sawah belakang kantor hehe.. sambil nyari inspirasi beasiswa mana lagi yang cocok dengan aku.
Karena tidak tahan dengan penantian, maka aku segera mengirim email lagi ke Mrs. Tiggeelar pada 19 September 2011. Alasannya sih, iseng-iseng nanya, apakah dokumenku sudah diterima dengan baik. Gawat kan, kalau aku sudah merasa mengirim dokumen tapi beliaunya belum menerima? Barangkali email hari itu pas trouble, kan aku tidak tahu..
Akhirnya belum ada balasan juga weleh weleh ... Benar-benar uji kesabaran!
7 November 2011
Datang surat balasan dari Mrs. Tiggelaar. Aku bersorak, Horee.. finally...
Nei, belum final. Aku diharuskan menambah nilai TOEFL ITP dari 540 menjadi 550. What!! Bukannya syarat di nesoindonesia sudah disebutkan, minimal TOEFL ITP hanya 520 untuk bisa ikut short course? Aku termenung dan berpikir :
Me : Hei, di website neso indonesia kan cuma menyaratkan 520 tahu, kenapa RUG minta 550?
RUG : Terserah aku dong, aku yang mengeluarkan LoA, kalau tidak mau, ya elu tidak dapat LoA.
Me : Oke .. I give up ...
Pada tanggal itu juga, aku memberi balasan ke Groningen bahwa dalam waktu dekat aku tidak mungkin ikut tes TOEFL ITP (sampai desember test TOEFL ITP di NESO dan AMINEF sudah full booking). Namun aku akan mengambil tes IELTS yang akan diadakan 10 Desember 2011.
Kalau lamaranku tidak bisa ditunggu sampai desember, ya izinkan aku melamar short course untuk tahun depan. Begitu emailku pada Mrs. Tiggelaar.
Seperti biasa, tidak ada reply setelah itu.
Hari-hariku setelah itu dipenuhi dengan persiapan ikut ambil tes IELTS, this is the first time dan aku harus dapat nilai minimal 5.5. Satpam di IALF Surabaya menakut-nakutiku bahwa ada candidate yang sudah tes 3 kali belum juga lulus, padahal cuma butuh 5. Jadi nyiut juga nyali waktu itu. Ah, nothing to lose, tidak dapat nilai 5.5, toh aku tidak perlu malu pada Mrs. Tiggelaar. Lha wong kita belum pernah ketemu sekalipun hihi...
Ini neh, hasil test IELTSku
25 Desember 2011
test IELTSku keluar dan... na..na.. 6.5. Oh my God, thank you. Aku sama sekali tidak menyangka nilaiku akan setinggi itu. Meski distribusinya tidak sama (reading 7.5, lainnya 5.5 kecuali listening 6.5), aku bersyukur bisa dapat overall score 6.5. Toh Groningen tidak minta skor per band. Tanggal 26 Des 2011 aku segera email nilai IELTSku. Holland lagi libur sampai 4 Januari..
Walah, ternyata orang luar negeri banyak liburnya juga...
Ah, menunggu lagi, sambil menunggu tulisanku berikutnya :)
Karena tidak tahan dengan penantian, maka aku segera mengirim email lagi ke Mrs. Tiggeelar pada 19 September 2011. Alasannya sih, iseng-iseng nanya, apakah dokumenku sudah diterima dengan baik. Gawat kan, kalau aku sudah merasa mengirim dokumen tapi beliaunya belum menerima? Barangkali email hari itu pas trouble, kan aku tidak tahu..
Akhirnya belum ada balasan juga weleh weleh ... Benar-benar uji kesabaran!
7 November 2011
Datang surat balasan dari Mrs. Tiggelaar. Aku bersorak, Horee.. finally...
Nei, belum final. Aku diharuskan menambah nilai TOEFL ITP dari 540 menjadi 550. What!! Bukannya syarat di nesoindonesia sudah disebutkan, minimal TOEFL ITP hanya 520 untuk bisa ikut short course? Aku termenung dan berpikir :
Me : Hei, di website neso indonesia kan cuma menyaratkan 520 tahu, kenapa RUG minta 550?
RUG : Terserah aku dong, aku yang mengeluarkan LoA, kalau tidak mau, ya elu tidak dapat LoA.
Me : Oke .. I give up ...
Pada tanggal itu juga, aku memberi balasan ke Groningen bahwa dalam waktu dekat aku tidak mungkin ikut tes TOEFL ITP (sampai desember test TOEFL ITP di NESO dan AMINEF sudah full booking). Namun aku akan mengambil tes IELTS yang akan diadakan 10 Desember 2011.
Kalau lamaranku tidak bisa ditunggu sampai desember, ya izinkan aku melamar short course untuk tahun depan. Begitu emailku pada Mrs. Tiggelaar.
Seperti biasa, tidak ada reply setelah itu.
Hari-hariku setelah itu dipenuhi dengan persiapan ikut ambil tes IELTS, this is the first time dan aku harus dapat nilai minimal 5.5. Satpam di IALF Surabaya menakut-nakutiku bahwa ada candidate yang sudah tes 3 kali belum juga lulus, padahal cuma butuh 5. Jadi nyiut juga nyali waktu itu. Ah, nothing to lose, tidak dapat nilai 5.5, toh aku tidak perlu malu pada Mrs. Tiggelaar. Lha wong kita belum pernah ketemu sekalipun hihi...
Ini neh, hasil test IELTSku
25 Desember 2011
test IELTSku keluar dan... na..na.. 6.5. Oh my God, thank you. Aku sama sekali tidak menyangka nilaiku akan setinggi itu. Meski distribusinya tidak sama (reading 7.5, lainnya 5.5 kecuali listening 6.5), aku bersyukur bisa dapat overall score 6.5. Toh Groningen tidak minta skor per band. Tanggal 26 Des 2011 aku segera email nilai IELTSku. Holland lagi libur sampai 4 Januari..
Walah, ternyata orang luar negeri banyak liburnya juga...
Ah, menunggu lagi, sambil menunggu tulisanku berikutnya :)
Langganan:
Postingan (Atom)




