Minggu, 27 Januari 2013

Jalan2 ke Maastricht di bulan Januari..

Kota mana yang paling cantik di Belanda dan wajib dikunjungi kalau ke Belanda?
Yup, betul, MAASTRICHT..

Aku telah bertanya tentang hal tersebut kepada banyak teman Belanda semasa mengikuti short course. Stiny E Tiggelaar (administrative staff), Amanda Tijsen and Fionne J Naber sepakat menunjuk Maastricht sebagai kota yang paling indah di Belanda. At least, kata Fionne, kota ini adalah kota tertinggi di Belanda? Ng..?? I do not know, cari sendiri jawabannya ya, karena menurutku setinggi2nya kota di Belanda ya tetap saja Belanda itu negara di bawah permukaan laut hehe..

Well, perjalanan ke Masstricht termasuk perjalanan yang paling lama aku rencanakan. Pertama, aku telah mengunjungi situs tripadvisor untuk menggali tempat2 wisata di Maastricht. Kedua, aku telah merencanakan kereta api yang mau aku gunakan. Ketiga, aku telah membuat peta dengan bantuan google map (ups ketahuan dah kalau HPku ga support google maps hehe..)

Perjalanan pertama ke Maastricht, gagal. Waktu itu suhu di Belanda sedang drop untuk kali  pertama, cuaca berkabut dan pandangan menjadi terbatas, kalau tidak salah sebelum libur Natal. Perjalananku hanya sampai di Utrecht saja karena jadwal kereta ke semua kota termasuk Maastricht menjadi kalang kabut. Daripada kesasar2, aku putuskan saja jalan2 di Utrecht, ternyata Utrecht juga indah dengan kafe2 pinggir kanal.


 



Cuaca berkabut dan sangat dingin saat itu..










Perjalanan kedua ke Maastricht, sukses. Aku berangkat tgl 13 Januari 2013 atau sabtu menjelang ujian hehe.. Maaf ya, kebiasaanku ga berubah, aku tidak pernah belajar saat besok mau ujian karena aku sudah belajar seminggu sebelumnya. Jadi sabtu itu kuanggap sebagai refreshing setelah seminggu belajar.

Aku juga sudah membekali diri dengan peta jalur kereta di Belanda. Kalaupun nanti aku ketinggalan kereta yang satu, aku tidak harus menunggu kereta berikutnya selama 30 menit-satu jam, cukup ikuti kereta apa saja asal arahnya mendekati Maastricht hehe.. Lebih jelasnya akses website ini untuk bantuan (http://www.trein-kaart.nl). Tiketnya? Tenang, aku pakai daagkart yang bisa digunakan seharian penuh di kereta mana saja tujuan mana saja..

Untuk perjalanan hari itu, aku ikut kereta arah Utrecht dulu kemudian nyambung ke Eindhoven dan sampai di Maastricht setelah 4,5 jam. Capek, dingin banget sekitar minus 4-5 derajat celcius, tapi ya seneng karena perjalanan ini sempat tertunda. 






Stasiun Maastricht

Tujuan pertama, Wilhelminaburg. Aku kurang tahu sejarah jembatan ini, tapi jembatan ini pasti dilewati oleh semua orang yang ingin ke pusat kota Maastricht. Jadi aku hanya mengikuti saja arah berjalannya orang2 itu. Burg sendiri mempunyai arti jembatan.

 



Jembatan Wilhelminaburg











Aku terus berjalan bagai turis kesasar. Ya, kapan lagi kesasar di negeri orang dan dianggap turis hehe.. Setelah melewati jembatan tersebut, deretan pertokoan menyapa hangat kepada pengunjung. Gimana ga hangat, dalam suhu minus hari itu, toko2 menyediakan pemanas yang hembusannya sampai trotoar hehe.. Aku tidak berniat beli apa2, jadi ya tidak tertarik masuk toko.

Tujuan kedua, Stadhuis Maastricht. Tipe bangunan dan lokasinya hampir sama dengan di Groningen. Kanan kirinya banyak berjualan pedagang kaki lima. Aku sempat ingin membeli Lekkerbek atau Harring di sini, sepertinya enak sekali di tengah suhu minus. Tapi penataan dagangannya tidak menarik sehingga aku mengurungkan niatku. Disini aku bertemu gerombolan student2 dari Indonesia yang asyik foto2. Oke deh, mencari ilmu sambil menikmati waktu di Belanda.







 Stadhuis Maastricht









Tujuan kedua, Vrijthof. Tujuan wisata ini sangat terkenal di Maastricht, semua arus wisatawan dipastikan mengalir ke situs ini. Di kelilingi kafe2 dan banyak pertokoan di kanan kirinya, tempat ini menjadi sempurna untuk dikunjungi. Apalagi sambil makan2 di salah satu kafe itu, hmm.. pastinya lebih sedap sambil melihat pejalan kaki lalu lalang. Heran juga ya, dalam suhu minum begini, pengunjung kafe di teras2 masih banyak juga. Ga kedinginan ta?

    


  
Vrijthof










 
Di belakang lokasi Vrijthof sebelah kanan terdapat Basiliek van Sint Servaas dan di sebelah kiri terdapat Basilica of St Servatius. Pertama aku mengunjungi Basiliek van Sint Servaas, disini aku foto2 dan mengabadikan kendaraan wisata sejenis dokar yang digunakan untuk keliling kota Maastricht dengan pemandu wisatanya sekalian. Start awal dari lapangan Vrijthof. Seperti gereja2 di Eropa, gereja Basiliek van Sint Servaas berdiri dengan keanggunan bangunan luar biasa. Ya, persis seperti imajinasiku tentang gereja abad pertengahan.

Kemudian berjalan menuju Basilica of St Servatius dengan menaranya yang dicat merah. Kenapa merah ya? Terus terang aku tidak suka, biarkan saja bangunannya seperti bangunan kuno karena terasa lebih eksotis. Dari sini aku bolak-balik peta untuk mencari arah tujuan selanjutnya. Sarung tangan mulai aku gunakan karena jari2 terasa mulai membeku.

Tujuan berikutnya, Onze lieve Vrouwebasiliek.  Lagi-lagi aku tidak tahu sejarah bangunan ini, jangan ditiru ya hehe.. Tapi aku suka kok berwisata mengunjungi bangunan2 kuno. Kalau dalam pengelompokan wisatawan, tipeku ini adalah tipe "lihat-lihat saja" dan tercatat sebagai tipe pelancong terbanyak. Horrai.. 

  





 Onze lieve Vrouwebasiliek









Melanjutkan perjalanan, aku mengunjungi helport. Aku suka banget dengan situs satu ini, mengingatkan akan kastil-kastil Inggris tatkala membaca buku Enyd Blyton "Lima Sekawan" atau buku2 lain. 


  



 Helport











Bangunan ini dikelilingi oleh rumput hijau menawan dengan sinar matahari terik yang indah. Eit, jangan salah, meski matahari bersinar garang suhu tetap minus lho ya. Jadi jangan tertipu oleh sinar matahari. Di lapangan rumput juga terdapat bom mesiu kuno, mungkin samalah dengan benteng Van den Berg yang di Jogja.  Sebenarnya aku ingin duduk2 di taman sekitar helport karena viewnya sangat amazing, tapi cuaca sedang tidak mendukung alias dingin banget.

Setelah itu perjalanan sebenarnya ingin aku lanjutkan ke Fort St Pieter tapi aku kesasar ga tahu jalan lagi. Artinya, jalan yang aku lalui waktu itu tidak ada di peta. Jadi aku putuskan saja pulang ke Groningen. Eh, dalam rangka mencari-cari jalan ke Fort St Pieter aku dapat gambar iring-iringan marching band. Hebat ya meneer2 dan mevouw2 itu, dingin2 gini masih pakai pakaian mini hihi.. Enjoy..


 















Aku sudah tidak tahan dingin, waktu sudah menunjukkan pukul 13. Kalau lancar, kereta berangkat pukul 14 dan akan sampai di Groningen pukul 18.30. Pasti sudah gelap banget karena maghrib pukul 16.30. Jadi berangkat masih gelap pulang sudah gelap hehe.. Dalam perjalanan ke arah stasiun, aku berharap menemukan warung halal. Bekal rotiku sudah habis sedari tadi dan sekarang perut meronta minta diisi karena suhu sedang dingin2nya. Akhirnya di jalan Wilhelminasingel aku ketemu warung Indonesia..

Alhamdulillah..

Warung itu tergolong gedhe dengan nama khas sangat Indonesia. Aku lupa namanya, tapi kalau orang Indonesia pasti langsung kenal. Namanya "Gembira" kalau tidak salah (maaf, agak pelupa..). Variasi makanannya banyak banget dan enak2, top dah. Pramusajinya ada dua, satu cewek Belanda dan satu lagi cowok dari Indonesia. Aku dilayani cewek dari Belanda, ketika aku minta sate ayam dia cekatan ambil satenya, tanya apakah aku suka pedas atau tidak, ingin sate hangat atau tidak, pakai nasi apa lontong, bungkus atau makan ditempat, pakai krupuk atau tidak. Busyet, tanyanya lengkap kan? Krupuk, gratis?? Sayang jawabannya Nee.

Di warung ini aku bertemu pasangan dari surabaya yang sudah merantau ke Belanda dan menjadi warga negara Belanda lebih dari 50 tahun! Wah, wah,.. sudah lama banget ya. Ketika aku beritahu kalau aku dari Groningen, mereka bilang "Wah, jauh sekali ya". Aku hanya ngobrol basa-basi dengan pasangan tsb, lupa juga tanya nama, tapi yang jelas seneng ketemu sesama orang Indonesia di perantauan.

Kereta berangkat ke Groningen pukul 14.30 dan ganti kereta di Utrecht. Di dalam kereta aku makan sate ayam yang aku beli dari warung "Gembira?" tadi. Ga peduli penumpang lain, lapaaar.. Di Utrecht aku masih sempat nyari2 toko The North Face, tapi harga jaketnya mahal banget, jadi urung beli.. Perjalanan dilanjutkan ke Groningen dan alhamdulillah, selamat tiba housing lagi.

Ayo ke Maastricht.
      

Selasa, 15 Januari 2013

Isi koper PNS vertikal yang ikut short course..

Jumpa lagi..

Kali ini aku akan buka-bukaan tentang isi koperku selama mengikuti short course di Belanda. Ada banyak kesalahan semoga bisa diambil manfaatnya bagi semuanya.

Pertama,
Siapkan dokumen2 wajib dalam map plastik bening, takut isi koper yang liquid tumpah dan mengenai dokumen. Aku mempunyai 2 kali pengalaman tentang hal ini, pertama pada saat naik haji minyak dari bumbu pecel tumpah dan mengenai baju. Kedua, pada saat short course ini minyak dari sambel bawang juga tumpah padahal sudah ditutup dengan lakban ketat.

Dokumen2 yang wajib dibawa:
1. Passport, taruh ditempat yang aman dan mudah diambil
2. Stuned award letter. Kata blogger lain, surat ini berguna bila pihak imigrasi Belanda tanya tentang ketersediaan dana yang kita punya, tapi pihak imigrasi pada saat itu tidak tanya tentang hal ini kepadaku.  Hal ini untuk memastikan bahwa kita tidak akan menggelandang dan mengemis di Belanda (kenyataannya kita telah menjadi pengemis (intelektual) heha.. )
3. Asuransi kesehatan. Pihak universitas kemarin menawarkan AON sebagai penyedia asuransi kesehatan dan Neso Indonesia akan membayar semuanya. Kita sendiri yang harus apply asuransi ya, mudah kok..
4. Surat persetujuan penugasan dari kemensetneg
5. Surat Tugas dari BPS Kab/kota dan BPS Provinsi
6. Surat dari housing provider. Perlu diketahui, housingku selama short course tidak disediakan kampus, kampus hanya memberi saran untuk menggunakan jasa international housing supaya urusan mencari tempat tinggal menjadi lebih mudah. Selanjutnya kita sendiri yang harus apply for housing dan pihak universitas akan membayar semuanya.
7. Print tiket pulang baik maskapai international maupun tiket lokal. Biaya print di Belanda sangat mahal.
8. Kalau tidak punya HP atau tablet dengan fasilitas google map, bawa print peta. Ketika akses google map dari kantor, aku merasa housingku terletak di sebelah kiri stasiun kereta, ternyata di sebelah kanan.  Tersesat deh ..:D, untung ada taksi, padahal dekat sekali hehe..
9. Pas foto berbagai ukuran. Ini digunakan untuk dokumen lapor diri di KBRI Den Haag.

Kedua, barang-barang bawaan di dalam koper

Untuk pakaian, kondisinya bisa berbeda-beda ya tergantung jenis kelamin hehe.. mungkin yang berkerudung akan lebih banyak lagi. Weather juga banyak berpengaruh, kursusku terjadi di musim winter jadi tidak perlu sering gonta ganti baju.
1. Sweater, aku bawa 2 sweater dan menurutku itu cukup. Gimana dengan jaket? Aku bawa satu saja, karena selama kursus jaket ini akan dilepas dan digantung atau diletakkan di kursi kita.
2. Baju: kaos berkerah 3, oblong 2, baju lengan pendek 2, lengan panjang 2, celana pendek 2, training 1, jeans 3, longjohn 2, kaos kaki 3, sepatu boot 1. Cukupkah? Menurutku cukup tuh, karena kursus hanya dilangsungkan 3 hari dalam seminggu, lainnya pakai baju santai. Selama kursus, student bebas mengenakan baju apa saja termasuk oblong. Karena musim dingin, kaos2 ini kebanyakan bersembunyi di balik sweater hehe..   
3. Syal, mungkin agak jarang di Indonesia. Kemarin aku beli syal untuk pertandingan bola dan ternyata tidak cukup hangat untuk Belanda yang dingin dan berangin haha... 
Jadi silahkan beli di Belanda saja.
4. Peralatan mandi. Bawa porsi kuecil saja karena selebihnya bisa beli disini, selain itu bisa menghemat berat koper. Aku kemarin bawa sabun kesehatan porsi besar karena kata kakakku sabun di Belanda kebanyakan pelembab. Tapi selama disini aku jadi kecewa karena memang kita butuh banyak pelembab saat udara dingin dan humidity rendah.
5. Peralatan ibadah
6. Mie instant 5 buah saja. Cukupkah? Cukup, Belanda adalah surga mie instant Indonesia, rasanya juga tidak berbeda. Aku kemarin bawa banyak karena takut kejadian di Saudi Arabia terulang lagi dimana memang banyak mie instant di toko2 namun rasanya sudah berubah.
7. Obat-obatan. Aku kemarin lupa membawa obat pereda nyeri (pain killer) dan analgesik, tapi obat-obatan ini bisa dibeli di toko terkemuka dan terkenal dimana2 bernama etos. Aku hanya bawa vit C dan tolak angin namun alhamdulillah belum pernah digunakan.
8. Oleh2 untuk teman2 short course dan instruktur
9. Yang tidak perlu dibawa: kopi, teh, gula, energen, kacang hijau, beras, abon, bumbu masak, minyak goreng, margarine, kering tempe, dll. Semuanya bisa ditemui dan dibeli di Belanda, kecuali kalau prefer merek2 tertentu, seperti aku lebih suka bumbu masak LaRasa. Kakakku dulu menyarankan untuk membawa semuanya dari Indonesia sehingga aku bisa mengerem pengeluaranku, tapi malah menambah berat koperku hehe..:D
10. Peralatan masak aku sewa dari housing, kecuali rice cooker aku beli seharga 10 euro, pisau, telenan, dll. Selain itu aku hanya bawa gelas 2 aluminium beda ukuran.

Ada yang lupa ga ya..
Moga-moga tidak ada, kalau mau tanya silahkan ya..

Oke, selamat berkemas-kemas.. :) Semoga lancar.


   

   
Ini neh koperku dgn berat kosong 5 kg :(  ... tapi sudah mengikuti standard TSA.

Kalau koper segedhe gini kelihatan banget dari udik hehe..

Tahu ga sih, medical student di sini kalau ujian juga bawa koper kecil2 untuk bawa bukunya ?

         

Senin, 14 Januari 2013

PNS instansi vertikal berangkat Short Course..

Setelah Stuned award letter sampai ke kantor, maka pertama-tama aku memberi tahu kepala kantor (sambil tersenyum sumringah). Karena aku bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten/Kota, maka perlu izin berlapis untuk bisa berangkat ke Belanda. Semua tingkat mempunyai hak untuk berkata "NO" pada keinginanku untuk berangkat short course, jadi aku harus hati-hati menjelaskan kepada setiap atasan. Apalagi aku mendaftar Stuned ini tanpa sepengetahuan kantor, jadi sempat deg-degan.. Diizinkan apa tidak ya?

Kepada atasan langsung, alhamdulillah lancar. Kepala kantor menyarankan untuk membuat surat kepada Kepala BPS Provinsi tentang langkah2 selanjutnya yang harus diambil untuk mengikuti short course di luar negeri. Beruntung sekali kasubag kepegawaian adalah teman baik sewaktu bekerja di pulau Madura, jadi komunikasiku dengan BPS Provinsi lebih cair. (Temanku yang dari Jabar, keinginannya untuk ikut Short Course di Belanda terganjal di kasubag kepegawaian ini, sedihnya..) :(

Tanggal 18 Juli 2012 kepegawaian BPS Prov mengirimkan email ke bagian Kerjasama, Protokol dan Penyiapan Materi Pimpinan di BPS RI tentang rencana keberangkatanku dan ditembuskan berita email tsb ke alamat emailku. Ternyata, untuk urusan short course, kita tidak perlu minta izin ke Pusdiklat karena waktu coursenya singkat dan tidak bergelar. Pihak kerjasama membalas email tersebut dan bersedia membantu mengurus hal-hal yang diperlukan untuk keberangkatan, seperti  Surat Persetujuan (SP) Sekneg, paspor dinas dari Kementerian Luar Negeri (plus exit permit dan rekomendasi visanya), dan visa dari kedutaan Belanda.

Selanjutnya..

Komunikasi antara aku dan bagian kerjasama BPS RI diserahkan sepenuhnya oleh BPS Provinsi, jadi aku berhubungan langsung dengan staf di bagian kerjasama. Pertama, aku dikirimi file tentang alur bepergian dinas di lingkungan BPS.


Untungnya aku bekerja di instansi yang ga ribet-ribet amat untuk urusan bepergian ke LN, jadi aku tinggal mengirimkan persyaratan yang diminta (warna hijau) saja, setelah itu tinggal menunggu semua dokumen jadi.. Gampang kan? Hidup BPS!

Kebetulan aku mempunyai foto dengan latar belakang beda2. Untuk kantor, latar belakang biru. Untuk lamaran beasiswa sana-sini, aku menggunakan foto latar belakang merah. Untuk syarat keberangkatanku ini, aku berusaha hanya mengganti latar belakang lewat program photoshop..

Hasilnya, tidak begitu bagus. Rambutku yang tidak beraturan (hihi..) membuat mas-mas di konter manipulasi foto agak kesulitan.. Aku sempat menawar pada staf di bag kerjasama BPS RI dan dijawab: foto latar belakangnya kurang putih or masih kelihatan bekas foto editan :D..
Ya sudah, aku foto lagi, toh yang akan merasakan manfaatnya aku sendiri..

Aku pernah tanya ke bagian kerjasama, apa aku harus mengurus passport lagi padahal aku sudah mempunyai passport hijau. Jawabannya, Ya, harus. Nanti yang akan digunakan untuk bepergian ke LN adalah passport biru, bukan hijau, dan aku akan dianggap melakukan PERJALANAN DINAS, BUKAN CUTI DI LUAR TANGGUNG JAWAB NEGARA..

Maaf aku tulis dengan huruf kapital karena sangat vital hehe..

Aku juga ditawari pihak Neso Indonesia untuk mengurus visa schengen, tapi aku males pergi ke Jakarta. Pertama Neso akan mengirim email berisi dokumen pengajuan visa yang harus kita isi, kemudian kita harus mengembalikannya bersama dengan passport dan sebuah foto. Ketika jadi, kita akan dihubungi pihak Neso dan kita harus mengambil visanya langsung di kedubes Belanda Jakarta.

Pada suatu hari Mbak Susi dari Neso menelepon apakah aku akan pergi ke Belanda dengan passport hijau apa biru. Kalau biru, aku tidak perlu apply visa namun efeknya aku hanya bisa bepergian di negara Benelux saja. Kalau hijau, aku harus apply visa dan aku bisa pergi ke seluruh Eropa kecuali Inggris, dan Neso bersedia membantu.

Setelah cukup lama mikir, aku putuskan tidak apply visa. Alasanku sederhana, pertama, aku ke Belanda dengan tujuan utama belajar, jadi tujuan jalan2 aku kalahkan dulu. Biarlah aku jalan2 di Benelux saja, mungkin nanti kalau sudah diterima master bisa jalan2 lebih jauh.. Amiin.. Kedua, bulan Nov-Jan 2012 adalah bulan2 dingin, pasti sulit dan dingin jalan2 di bulan2 itu, jadi kurasa tidak menarik...

Setelah dokumen siap, siap2 koper berangkat ke Gronigen.. 










Stasiun Groningen..
Bayangan pertama tentang Groningen City

Sabtu, 05 Januari 2013

Persiapan Perjalanan ke Groningen..

Menerima pengumuman sebagai awardee beasiswa short course dari Stuned, yang pasti senang dan bersyukur.. (harusnya ga boleh begitu ya, semua sudah ada yang ngatur, tidak keterima juga harusnya senang dan bersyukur). Tapi kesenangan ini hanya bisa disimpan di dalam hati, sambil ketawa-ketiwi sendiri, ah pokoknya berwarna rasanya hari-hari setelah pengumuman itu..

Namun semenjak menerima pengumuman sbg awardee pada 10 Mei 2012, kok belum ada email lagi dari Siska ya. Jangan-jangan.. beasiswanya dibatalkan gara-gara (bayangin yang jelek-jelek) krisis moneter di Eropa.. Wah, ga seru dan ga boleh.. Hampir tiap hari aku pantau blogger para penerima beasiswa Stuned, namun belum ada yang ngomongin Award letter dari Stuned tuh. Kepastian kita mendapat beasiswa Stuned ya dari award letter itu. Tanpa itu, ya kita tidak bisa bergerak jauh, misalnya woro-woro ke teman2 kalau kita dapat beasiswa, atau ngasih tahu atasan kalau kita mau pergi sejenak hehe..

Pada tanggal 2 Juli 2012 aku melihat blog anak Unsri memajang award letter dari Stuned untuk program masternya. Wah, aku jadi deg-degan, kok aku belum terima, apa benar pikiran burukku bulan-bulan lalu ya?
Daripada jadi bisul karena terlalu lama menunggu (hampir 2 bulan kan?), mending tanya Siska saja lewat email, pakai jurus muka badak lagi. Sampai sekarang aku belum tahu lho yang namanya mbak Siska Aprilianti, tapi sepertinya orangnya gesit banget, email pasti akan segera di balas satu hari sesudahnya. Jawaban Siska, Neso memang mendahulukan award letter untuk awardee master kemudian baru short course, karena start kuliah untuk master bulan September sedangkan untuk jadwal short courseku masih November (jadi malu, ketahuan terlalu bersemangat..). Tapi award letterku katanya sudah ditandatangani direktur Neso hari itu, jadi bisa langsung dikirim sesudahnya.

O ya, untuk calon master students akan menerima pre-dept di Erasmus Huis, Jakarta. Pingin datang sebenarnya, tapi Siska bilang sifatnya sukarela untuk peserta short course karena jangka waktunya yang pendek, namun sangat disarankan bagi calon master student. Setelah menimbang-nimbang, di masak, kemudian jadi keputusan.. aku ga datang, uangnya bisa untuk beli2 persiapan ke Belanda..
Namun dalam email aku minta disisakan tas oranye dan topi oranye, mudah-mudahan masih ada ya. Aku akan kabari lagi setelah pulang dari Groningen dan ke kantor Neso Jakarta untuk menyerahkan copy sertifikat short courseku sekaligus re-imburse tiket pesawat lokal (sby-jkt). 

Beberapa hari kemudian, sebuah amplop putih bersih dan bagus dari JNE bertuliskan neso indonesia datang ke kantor. Senang? Tentu saja. Bahagia? Jelas. 
 
Ini neh award letter untuk short courseku..

Dengan datangnya surat ini, keabsahanku sebagai awardee Stuned untuk short course sudah tidak diragukan lagi. Tentu saja, setelah ini aku bisa woro-woro kepada bapak, atasan, teman, istri, sahabat, tetangga, dsb.. hehe.. Aku terdiam di sudut ruangan kantor, tidak bisa menangis pun tertawa, aku mencoba melukiskan perasaanku kala itu namun tidak ada kata yang mampu mewakili. Aku bahagia sekaligus teringat almarhumah emak, dulu aku pernah berkata kepadanya untuk bercita-cita terbang ke Belanda, dan sekarang kesampaian juga. Hiks .. hiks..

Tanggal 10 Juli, mbak Siska juga mengirim email lagi untuk pengiriman itinerary receipt tiket pesawat keberangkatanku ke Schipol. Nanti kalau sudah pulang ke Indonesia aku upload ya, soale tiket itu untuk pulang dan pergi hehe..

Well, lengkap sudah hal-hal legal yang diperlukan untuk kabar-kabari ke atasan, besok ceritanya dilanjutkan lagi tentang ribetnya PNS yang mau jalan2 ke LN..